7  Seleksi Fitur

Representasi yang terlalu lebar tidak selalu lebih informatif. Banyak kolom yang bergerak bersama karena berasal dari sumber yang sama, sedangkan kolom lain hanya membawa noise. Pada data berdimensi tinggi, model lebih mudah menghafal daripada belajar pola yang menggeneralisasi. Pada sistem produksi, setiap fitur yang dipertahankan harus dihitung, dimonitor, dan dijaga definisinya. Karena itu, seleksi fitur diperlukan untuk menyimpan informasi berguna sambil mengurangi noise, redundansi, biaya komputasi, dan kesulitan interpretasi.

Tiga keluarga metode dibahas dalam bab ini. Metode filter menilai fitur dengan statistik sebelum model dilatih, cepat tetapi buta terhadap interaksi. Metode wrapper memilih subset dengan melatih dan mengevaluasi model, kuat tetapi mahal. Metode embedded melakukan seleksi selama pelatihan, misalnya melalui penalti L1. Bab ini menguraikan ketiga keluarga tersebut serta menekankan bahwa seleksi fitur harus berada di dalam alur validasi, bukan dilakukan sekali pada seluruh dataset sebelum evaluasi.

7.1 Relevansi, Redundansi, dan Curse of Dimensionality

Sebuah fitur disebut relevan jika fitur tersebut membawa informasi yang berguna untuk target pada tugas tertentu. Pada dataset Breast Cancer Wisconsin Diagnostic (WDBC), worst concave points atau worst radius dapat membantu membedakan diagnosis karena terkait dengan bentuk inti sel. Sebaliknya, fitur probe-noise seharusnya tidak konsisten membantu. Relevansi selalu melekat pada tugas, sehingga fitur yang penting untuk satu target bisa tidak berguna untuk target lain.

Redundansi berbeda dari ketidakrelevanan. Fitur redundan bisa relevan, tetapi informasinya sudah diwakili oleh fitur lain. Pada WDBC, radius, perimeter, dan area tidak identik, tetapi ketiganya membawa informasi ukuran sel yang sangat berkaitan. Mean radius dan mean perimeter dapat sama-sama relevan untuk diagnosis, namun salah satunya mungkin hanya menambah sedikit informasi setelah yang lain masuk. Karena itu, subset fitur perlu dipahami sebagai tim, bukan daftar pemenang satu per satu.

Seleksi fitur yang ideal mencari himpunan dengan relevansi tinggi terhadap target dan redundansi rendah antaranggota (Guyon and Elisseeff 2003). Prinsip ini muncul pada pendekatan seperti minimum-redundancy maximum-relevance, atau mRMR. Intuisinya sederhana. Kita tidak hanya mencari fitur yang kuat sendirian. Kita mencari beberapa fitur yang saling melengkapi.

Dimensi tinggi membuat persoalan tersebut lebih tajam. Semakin banyak fitur, semakin besar risiko overfitting, kebutuhan memori, biaya komputasi, dan kesulitan interpretasi. Pada data dengan sampel terbatas, fitur lemah, redundan, atau sengaja dibuat sebagai probe-noise dapat mengaburkan sinyal utama. Model mungkin menemukan pola kebetulan yang tidak muncul lagi pada data baru.

Curse of dimensionality membuat sampel makin jarang karena volume ruang fitur tumbuh cepat. Jumlah observasi yang dibutuhkan untuk mempertahankan kepadatan data pun dapat meningkat secara eksponensial. Penalaran berbasis jarak ikut memburuk karena tetangga terdekat tidak lagi terasa jauh lebih dekat dibanding titik lain. Seleksi fitur mengurangi sebagian beban ini dengan menghapus dimensi yang tidak perlu. Bab 8 mengambil jalur lain, yaitu mengompresi fitur ke ruang representasi baru.

Lebih sedikit fitur tidak otomatis berarti lebih baik. Menghapus fitur yang benar-benar membawa sinyal dapat merusak performa dan bahkan kewajaran model. Seleksi fitur yang baik bukan tindakan merapikan tabel, melainkan memilih representasi yang lebih stabil dan lebih mudah digeneralisasi. Dari kerangka relevansi dan redundansi ini, metode yang paling mudah dimulai adalah metode yang memberi skor statistik pada fitur.

Pendalaman

Konsentrasi jarak di dimensi tinggi

Ketika dimensi bertambah, selisih antara tetangga terdekat dan terjauh dapat mengecil relatif terhadap jarak itu sendiri. Dengan kata lain, semua titik tampak hampir sama jauhnya. Metode berbasis jarak seperti k-NN, clustering, atau kernel tertentu kehilangan daya pembeda karena struktur kedekatan menjadi kabur. Ini adalah sifat geometri dimensi tinggi, bukan masalah kualitas data saja. Karena itu, menghapus dimensi yang tidak perlu melalui seleksi fitur, atau mengompresinya seperti pada Bab 8, dapat membantu.

7.2 Metode Filter

Cara paling murah untuk menyeleksi fitur adalah menilai setiap fitur sebelum model akhir dilatih. Metode filter bekerja seperti gerbang awal. Fitur diberi skor, lalu sebagian dipertahankan berdasarkan ambang, peringkat, atau jumlah fitur yang diinginkan. Contohnya adalah variance threshold, korelasi, chi-square, ANOVA F-test klasifikasi untuk menilai perbedaan rata-rata fitur numerik antar kelas, serta mutual information. Untuk target kontinu, f_regression menilai asosiasi linear antara fitur numerik dan target; pertanyaannya berbeda dari perbandingan rata-rata antar kelas.

Gambar 7.1 menempatkan filter bersama dua keluarga lain. Pada filter, statistik menjadi gerbang sebelum model. Pada wrapper, model dilatih berulang kali untuk menilai subset. Pada embedded, seleksi terjadi sebagai bagian dari pelatihan model.

Figure 7.1: Tiga keluarga metode seleksi fitur

Statistik yang dipakai harus cocok dengan tipe data dan bentuk hubungan yang dicari. Pearson correlation mengukur asosiasi linear antara dua variabel numerik.

\[r = \dfrac{\sum_i (x_i - \bar{x})(y_i - \bar{y})}{\sqrt{\sum_i (x_i - \bar{x})^2 \sum_i (y_i - \bar{y})^2}}\]

dengan \(x_i\) dan \(y_i\) sebagai nilai observasi ke-\(i\), sedangkan \(\bar{x}\) dan \(\bar{y}\) adalah rata-ratanya. Korelasi berguna untuk hubungan linear, tetapi dapat gagal pada pola U-shaped, hubungan non-linear lain, atau ketika satu outlier kuat menarik nilai korelasi.

Mutual information mengukur seberapa banyak pengetahuan tentang \(X\) mengurangi ketidakpastian tentang \(Y\).

\[I(X; Y) = \sum_{x, y} p(x, y) \log \dfrac{p(x, y)}{p(x)\,p(y)}\]

Karena tidak terbatas pada hubungan linear, mutual information dapat menangkap ketergantungan yang lebih umum. Chi-square membandingkan frekuensi teramati dan frekuensi harapan di bawah asumsi independensi.

\[\chi^2 = \sum_i \dfrac{(O_i - E_i)^2}{E_i}\]

dengan \(O_i\) sebagai frekuensi teramati dan \(E_i\) sebagai frekuensi harapan. Dalam seleksi fitur, chi-square cocok untuk fitur bernilai non-negatif, seperti frekuensi atau count, dengan target kategorikal.

Kelebihan filter adalah kecepatannya. Metode ini berguna sebagai penyaringan awal pada data berdimensi tinggi, misalnya untuk menghapus fitur yang hampir konstan atau memilih fitur teks paling informatif. Keterbatasannya muncul karena banyak filter menilai fitur satu per satu. Dua fitur yang lemah sendiri-sendiri mungkin kuat jika muncul bersama, tetapi interaksi semacam itu dapat terlewat. Dua sensor yang hampir identik dapat sama-sama mendapat skor tinggi dan sama-sama lolos.

Seperti transformer lain, filter harus dipasang di dalam fold pelatihan ketika dipakai untuk evaluasi model. Jika skor fitur dihitung dari seluruh dataset sebelum split, target pada fold validasi ikut memengaruhi pilihan fitur. Skor evaluasi menjadi terlalu optimistis. Dalam praktik modern, attribution score dari model pohon cepat, misalnya mean absolute SHAP, kadang dipakai sebagai filter yang lebih sadar model. Tetap saja, langkah ini merupakan proses seleksi dan harus divalidasi. Jika interaksi dan redundansi menjadi terlalu penting untuk diabaikan, seleksi perlu dibuat lebih dekat dengan performa model.

7.3 Metode Wrapper

Metode wrapper memilih fitur dengan melatih dan mengevaluasi model pada subset fitur yang berbeda. Filter menilai asosiasi setiap fitur dengan target, sedangkan wrapper membandingkan subset berdasarkan performa model yang dihasilkan.

Secara ideal, masalahnya dapat ditulis sebagai berikut.

\[\max_{S \subseteq F} \operatorname{Skor}(M, S)\]

dengan \(F\) sebagai himpunan semua fitur, \(S\) sebagai subset yang dipilih, \(M\) sebagai model, dan \(\operatorname{Skor}(M, S)\) sebagai performa tervalidasi model memakai subset tersebut. Jika ada \(n\) fitur, jumlah subset yang mungkin adalah \(2^n\). Pencarian lengkap segera menjadi mustahil ketika \(n\) tidak kecil. Karena itu, metode wrapper biasanya memakai heuristik greedy.

Sequential forward selection mulai dari subset kosong. Pada setiap langkah, metode ini mencoba menambahkan satu fitur yang paling meningkatkan skor. Sequential backward selection mulai dari semua fitur, lalu menghapus satu fitur yang paling sedikit merusak skor. Kedua jalur ini tidak selalu berakhir pada subset yang sama, karena keputusan awal dapat memengaruhi pilihan berikutnya. Karena bersifat greedy, metode ini tidak menjamin subset global terbaik.

Gambar 7.2 memperlihatkan dua jalur tersebut pada contoh kecil. Jalur forward tumbuh dari kosong, sedangkan jalur backward menyusut dari set penuh. Di setiap tahap, metode memilih langkah lokal terbaik, bukan menjamin solusi global terbaik.

Figure 7.2: Forward selection dan backward elimination

Recursive feature elimination, atau RFE, mengambil jalur lain. Metode ini melatih model, membaca koefisien atau feature importance, menghapus fitur yang dianggap paling lemah, lalu mengulang proses. RFE membutuhkan model yang menyediakan koefisien atau importance. Sequential feature selection lebih model-agnostic karena hanya membutuhkan skor model pada subset tertentu.

Kelebihan wrapper adalah penilaiannya mengikuti model dan metrik yang dipakai. Kemampuannya menangkap interaksi bergantung pada estimator dasar; wrapper dengan model linear tanpa fitur interaksi tidak otomatis menemukan hubungan interaktif. Pendekatan ini juga dapat mengurangi redundansi jika model dan metriknya mengenali dua fitur sebagai pengganti. Jika dua fitur hampir saling menyalin, setelah salah satunya masuk ke subset, fitur kedua mungkin tidak lagi menambah skor dan dapat ditinggalkan. Ini berbeda dari filter yang sering meloloskan keduanya.

Biayanya adalah komputasi dan risiko overfitting terhadap prosedur validasi. Karena model dilatih berkali-kali, wrapper mahal pada data besar atau fitur banyak. Pada sampel kecil, subset yang menang bisa saja menang karena kebetulan pada fold tertentu. Hasil wrapper juga spesifik terhadap model, metrik, dan skema validasi yang dipakai. Fitur yang terpilih untuk model linear belum tentu merupakan fitur terbaik untuk model pohon. Keluarga berikutnya mencoba mengambil sebagian manfaat seleksi yang sadar model tanpa pencarian subset yang terlalu mahal.

7.4 Metode Embedded

Metode embedded mengintegrasikan seleksi ke dalam pelatihan model. Model menghasilkan sinyal seleksi melalui koefisien, regularisasi, atau feature importance, sehingga pendekatannya lebih sadar model daripada filter dan biasanya lebih ringan daripada pencarian banyak subset pada wrapper.

Contoh pentingnya adalah model dengan regularisasi L1, atau LASSO (Tibshirani 1996). Karena WDBC merupakan tugas klasifikasi biner, tujuan yang sesuai untuk contoh ini adalah regresi logistik berpenalti L1.

\[\min_{w,b} \left[-\dfrac{1}{n}\sum_{i=1}^{n}\left(y_i\log p_i + (1-y_i)\log(1-p_i)\right) + \alpha\lVert w\rVert_1\right], \qquad p_i = \sigma(w^{\top}x_i+b)\]

dengan \(y_i \in \{0,1\}\) sebagai label, \(p_i\) sebagai probabilitas kelas positif, \(w\) sebagai vektor bobot, \(b\) sebagai intercept, dan \(\alpha\) sebagai pengatur kekuatan penalti. Suku pertama adalah log loss klasifikasi, sedangkan suku kedua memberi biaya pada bobot yang tidak nol. Ketika \(\alpha\) dinaikkan, sebagian koefisien dapat didorong sampai tepat nol. Pada fitur yang berkorelasi, L1 dapat memilih salah satu fitur pengganti secara tidak stabil; koefisien nol bukan bukti bahwa fitur lain tidak relevan. Karena penalti bergantung pada skala koefisien, standardisasi harus di-fit di dalam setiap fold pelatihan.

Gambar 7.3 menggunakan dataset Breast Cancer Wisconsin Diagnostic sebagai contoh kerja untuk memperlihatkan lintasan koefisien saat \(\alpha\) meningkat. Setiap baris mewakili satu sampel massa payudara dengan ciri numerik yang diperoleh dari citra, dan targetnya membedakan diagnosis ganas dengan jinak. Fitur probe noise ditambahkan saat percobaan agar penyusutan koefisien terlihat jelas. Sebagian koefisien menyentuh nol lebih awal, sedangkan yang lain bertahan lebih lama; urutan ini bergantung pada kekuatan regularisasi, skala fitur, dan korelasi antarfitur.

Figure 7.3: Lintasan penyusutan koefisien pada LASSO

Model pohon dan ensemble juga sering memberi feature importance. Alur seperti SelectFromModel memakai koefisien atau importance dari model terlatih untuk memilih fitur. Namun, importance tidak netral. Pada model pohon, importance dapat bias terhadap fitur berkardinalitas tinggi, fitur dengan banyak titik split, atau fitur yang berkorelasi dengan fitur lain. Berbeda dari L1, seleksi berbasis importance pohon tidak otomatis menghilangkan redundansi antarfitur dengan cara yang sama. Karena itu, importance model sebaiknya diperiksa dengan permutation importance, ablation, atau evaluasi ulang pada subset yang dipilih.

Tabel 7.1 mengembalikan ketiga keluarga metode ke sumbu perbandingan yang sama. Kolomnya menekankan keputusan praktis tentang kecepatan metode, kemampuan menangkap interaksi, cara menangani redundansi, keterikatan hasil pada model, dan risiko utamanya.

Table 7.1: Perbandingan keluarga metode seleksi
Keluarga Kecepatan Interaksi Redundansi Terikat model? Risiko utama
Filter Sangat cepat Tidak Tidak Tidak Meloloskan duplikat dan membuang fitur interaksi
Wrapper Lambat Tergantung estimator dasar Dapat Ya Overfitting prosedur seleksi dan biaya komputasi
Embedded Cepat-sedang Sebagian, tergantung model Dapat; L1 bisa tidak stabil pada fitur berkorelasi Ya Bias importance dan hasil spesifik-model

Metode embedded sering menjadi kompromi yang menarik karena lebih dekat ke kecepatan filter, tetapi lebih sadar model dan dapat menangani sebagian redundansi. Hasilnya tetap mewarisi bias model yang melakukan seleksi. Jika model pemilih tidak sesuai dengan model akhir atau struktur data, subset yang dihasilkan bisa menyesatkan. Karena itu, Tabel 7.1 perlu dibaca bersama prinsip berikutnya. Seleksi harus dinilai melalui validasi yang tidak ikut dipakai untuk memilih fitur, apa pun keluarga metodenya.

Pendalaman

Minimal-optimal vs all-relevant sebagai dua filosofi seleksi

Pendekatan minimal-optimal, seperti LASSO atau mRMR, mencari subset sekecil mungkin yang mempertahankan performa. Ini cocok untuk model produksi yang ringkas. Pendekatan all-relevant berusaha menemukan semua fitur yang membawa sinyal, termasuk fitur yang redundan tetapi bermakna secara ilmiah. Boruta mengikuti filosofi kedua. Metode ini membuat shadow features dengan mengacak fitur asli, lalu mempertahankan fitur nyata yang mengalahkan shadow-nya secara statistik. Ide shadow ini berkerabat dengan probe feature sebagai pembanding acak, tetapi tujuannya berbeda. Boruta mencari semua sinyal, sementara pembuangan noise hanya sebagian dari pekerjaan itu.

7.5 Stabilitas Seleksi dan Validasi Bersarang

Seleksi fitur selalu bergantung pada data (Cawley and Talbot 2010). Jika dilakukan sebelum train/test split atau di luar fold cross-validation, informasi dari data validasi dapat masuk ke pilihan fitur. Ini bentuk leakage yang sering terjadi karena seleksi terasa seperti langkah persiapan biasa. Jika target dipakai untuk memilih fitur, pilihan tersebut sudah dipengaruhi oleh label pada data yang seharusnya menjadi penguji.

Kerusakannya muncul dalam beberapa bentuk. Estimasi performa menjadi terlalu optimistis karena asosiasi target pada data uji ikut terlihat saat seleksi. Objektivitas evaluasi juga hilang karena model secara tidak langsung sudah melihat label uji. Saat produksi, performa dapat runtuh karena fitur yang tampak kuat ternyata hanya cocok dengan kebetulan pada dataset penuh.

Jika seleksi fitur dan tuning hiperparameter dilakukan bersama, evaluasi sebaiknya memakai nested validation atau test set yang benar-benar tidak disentuh. Inner loop memilih jumlah fitur \(k\), kekuatan L1 \(\alpha\), atau subset terbaik. Outer loop menilai performa pada fold yang belum dipakai untuk keputusan tersebut. Bab 2 sudah memperkenalkan nested cross-validation. Di bagian ini, prinsipnya diterapkan khusus pada seleksi fitur.

Gambar 7.4 membandingkan alur salah dan benar. Pada alur salah, seleksi dilakukan pada seluruh data sebelum cross-validation, sehingga informasi dari fold validasi masuk ke tahap seleksi. Pada alur benar, setiap outer fold memiliki seleksi dan tuning di bagian train-nya sendiri, lalu dievaluasi pada bagian outer test yang belum disentuh.

Figure 7.4: Seleksi fitur salah dan seleksi fitur dalam validasi bersarang

Selain performa, stabilitas juga perlu diperhatikan. Seleksi yang stabil memilih fitur serupa di berbagai fold, resample, periode waktu, atau populasi. Seleksi yang tidak stabil dapat menandakan sinyal lemah, fitur-fitur pengganti yang saling berkorelasi, sampel terlalu kecil, atau seleksi yang terlalu agresif. Kadang fitur individual berganti-ganti, tetapi kelompok sinyalnya tetap sama. Beberapa ukuran aktivitas pengguna, misalnya, dapat saling menggantikan. Model tidak selalu membutuhkan semuanya, tetapi keluarga fitur aktivitas tetap penting.

Stabilitas tidak berarti fitur harus sama persis di semua situasi. Dunia dapat berubah, populasi dapat bergeser, dan fitur yang relevan pada satu periode mungkin melemah pada periode lain. Namun, jika subset berubah drastis hanya karena fold berubah sedikit, hasil seleksi perlu dibaca sebagai tidak pasti.

Pendalaman

Mengukur stabilitas seleksi

Stabilitas dapat diukur dengan membandingkan himpunan fitur yang dipilih pada dua fold. Salah satu ukuran sederhana adalah Jaccard index, \(J(A, B) = \dfrac{|A \cap B|}{|A \cup B|}\), dengan \(A\) dan \(B\) sebagai dua himpunan fitur terpilih. Nilai mendekati 1 berarti pilihan sangat mirip, sedangkan nilai mendekati 0 berarti hampir tidak ada irisan. Namun, fitur yang saling berkorelasi dapat menurunkan skor pasangan walaupun kelompok sinyalnya stabil. Pemeriksaan juga perlu mencakup kelompok fitur, bukan hanya nama kolom individual. Stabilitas rendah lebih tepat dibaca sebagai temuan tentang data dan sinyal daripada sebagai kegagalan algoritma semata.

Sintesis Bab

Seleksi fitur adalah keputusan representasi untuk menyederhanakan tanpa membuang sinyal penting. Fitur yang baik tidak hanya relevan terhadap target, tetapi juga tidak terlalu mengulang fitur lain, stabil di bawah evaluasi yang sah, dan layak dipelihara dalam sistem. Pada data berdimensi tinggi, seleksi dapat mengurangi overfitting, biaya komputasi, dan kesulitan interpretasi, terutama setelah proses pembentukan fitur seperti pada Bab 6.

Metode filter cepat dan berguna sebagai penyaringan awal, tetapi mudah melewatkan interaksi dan meloloskan duplikat. Metode wrapper lebih dekat dengan model dan metrik tertentu, tetapi mahal dan rentan overfitting prosedural. Metode embedded melakukan seleksi selama pelatihan, misalnya melalui L1 atau importance model, tetapi mewarisi bias model pemilih. Tabel 7.1 merangkum perbedaan ini sebagai peta keputusan, bukan sebagai peringkat mutlak.

Prinsip terpentingnya adalah validasi. Seleksi fitur harus diperlakukan sebagai proses yang belajar dari data, sehingga ditempatkan di dalam split, fold, atau nested validation. Setelah fitur dipilih, hasilnya perlu diperiksa melalui stabilitas subset, ketersediaan saat inferensi, kewajaran secara domain, dan kontribusinya terhadap tujuan model.

Bacaan Lanjutan

Rujukan

Cawley, Gavin C., and Nicola L. C. Talbot. 2010. “On over-Fitting in Model Selection and Subsequent Selection Bias in Performance Evaluation.” Journal of Machine Learning Research 11: 2079–107.

Guyon, Isabelle, and André Elisseeff. 2003. “An Introduction to Variable and Feature Selection.” Journal of Machine Learning Research 3: 1157–82.

Tibshirani, Robert. 1996. “Regression Shrinkage and Selection via the Lasso.” Journal of the Royal Statistical Society, Series B 58 (1): 267–88.